Ribuan Warga Israel Turun ke Jalan di Tel Aviv Jelang Pemilu, Tuntut Akuntabilitas Pemerintah Netanyahu
Berita International

Ribuan Warga Israel Turun ke Jalan di Tel Aviv Jelang Pemilu, Tuntut Akuntabilitas Pemerintah Netanyahu

D
Devi Sry Atmaja 27 Oktober 2026 · 2 penayangan

Jelang pemilihan umum Israel yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa (27/10/2026), ribuan warga turun ke jalanan Tel Aviv dalam aksi unjuk rasa besar-besaran menentang pemerintah. Demonstrasi anti-pemerintah ini menjadi salah satu aksi terakhir sebelum pemilih memberikan suaranya di bilik suara. Aksi tersebut ditujukan untuk menentang Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang berupaya mempertahankan kekuasaannya. Para demonstran menilai pemerintahan yang dipimpinnya telah gagal memenuhi harapan masyarakat, terutama terkait keamanan dan akuntabilitas.

Unjuk rasa besar di Tel Aviv pada akhir pekan lalu diinisiasi oleh kelompok warga yang menjadi korban serangan 7 Oktober 2023. Mereka menuding pemerintahan Netanyahu gagal membendung serangan tersebut yang kemudian memicu perang berkepanjangan di Gaza. Lokasi utama aksi berlangsung di Hostages Square, kawasan yang selama ini menjadi simbol perjuangan keluarga sandera dan korban serangan Hamas. Ribuan orang berkumpul membawa bendera Israel serta spanduk yang menuntut pembentukan komisi penyelidikan negara independen.

Beberapa pemimpin oposisi turut hadir dalam demonstrasi tersebut. Di antaranya adalah Gadi Eisenkot dari partai Yashar, yang menjadi rival utama Netanyahu dalam kontestasi pemilu kali ini. Kehadiran tokoh-tokoh oposisi menambah bobot politik aksi tersebut. Para demonstran menyerukan agar pemerintah segera membentuk komisi penyelidikan resmi terkait kegagalan intelijen dan keamanan yang memungkinkan serangan 7 Oktober 2023 terjadi. Netanyahu selama ini menolak pembentukan komisi independen yang diusulkan pihak oposisi. Hasil jajak pendapat terakhir menunjukkan bahwa baik partai Netanyahu maupun blok oposisi belum mampu memperoleh dukungan mayoritas untuk membentuk pemerintahan. Kedua kubu diperkirakan kesulitan mencapai angka 61 kursi yang dibutuhkan di parlemen Israel.

Situasi politik Israel saat ini dinilai sangat ketat. Banyak pengamat menyebut pemilu 2026 sebagai salah satu yang paling krusial dalam sejarah negara itu karena menyangkut arah kebijakan keamanan dan masa depan pemerintahan Netanyahu. Selain menuntut akuntabilitas atas peristiwa 2023, demonstran juga menyampaikan kekhawatiran terhadap kondisi politik dalam negeri. Mereka menilai polarisasi yang semakin dalam dapat mengancam stabilitas sosial dan demokrasi Israel ke depan. 

Aksi unjuk rasa berlangsung damai meskipun melibatkan ribuan peserta dari berbagai kalangan. Sebagian peserta mengenakan kostum simbolis, termasuk yang meniru wajah Netanyahu dengan hidung panjang seperti tokoh Pinocchio, sebagai bentuk kritik terhadap kepemimpinan yang dianggap tidak jujur.

Kelompok October Council yang mengorganisasi aksi ini menekankan bahwa perjuangan mereka telah berlangsung selama tiga tahun. Mereka berharap hasil pemilu dapat membuka jalan bagi pembentukan komisi penyelidikan yang kredibel dan independen. Kehadiran tokoh oposisi di tengah massa juga menjadi sorotan media. Eisenkot mendapat sambutan meriah dari para demonstran yang berteriak mendukungnya sebagai calon perdana menteri berikutnya. Di sisi lain, pendukung pemerintah tetap meyakini bahwa Netanyahu mampu menjaga keamanan Israel di tengah ancaman regional yang kompleks. Mereka menilai kritik terhadap pemerintah justru melemahkan posisi negara di kancah internasional.

Pemilu Israel akan menentukan komposisi Knesset untuk periode berikutnya. Dengan hasil jajak pendapat yang menunjukkan kebuntuan, proses pembentukan koalisi diperkirakan akan berjalan rumit dan memakan waktu. Masyarakat Israel kini menanti hasil pemungutan suara yang akan digelar esok hari. Apakah aksi unjuk rasa besar di Tel Aviv mampu memengaruhi pilihan pemilih, masih harus dibuktikan melalui hasil resmi pemilihan.

Topik

Memuat tag...