Kabut Asap Kian Pekat Selimuti Palembang, Kualitas Udara Sangat Tidak Sehat dan Warga Keluhkan Gangguan Pernapasan
PALEMBANG - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti Kota Palembang, Sumatra Selatan, pada Kamis (17/9/2026). Kondisi kabut yang semakin pekat menyebabkan jarak pandang menurun drastis dan memicu berbagai keluhan kesehatan di kalangan masyarakat, terutama gangguan pernapasan dan iritasi mata. Sejak pagi hari, lapisan asap tampak menyelimuti sejumlah kawasan di Kota Palembang. Langit terlihat kelabu dan sinar matahari tertutup kabut tipis hingga tebal di beberapa wilayah. Kondisi tersebut membuat aktivitas masyarakat menjadi kurang nyaman, terutama bagi warga yang banyak beraktivitas di luar ruangan.
Sejumlah warga mengaku mulai merasakan dampak langsung dari memburuknya kualitas udara. Keluhan yang paling banyak dirasakan adalah sesak napas, tenggorokan kering, batuk, hingga mata perih akibat paparan asap yang terus berlangsung dalam beberapa hari terakhir. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta penderita penyakit pernapasan menjadi pihak yang paling berisiko terdampak. Berdasarkan pemantauan kualitas udara, indeks kualitas udara (AQI) di Kota Palembang tercatat berada pada angka 249. Angka tersebut masuk dalam kategori sangat tidak sehat, yang berarti kualitas udara dapat memberikan dampak kesehatan serius bagi masyarakat secara umum dan berpotensi menimbulkan risiko lebih besar bagi kelompok sensitif.
Meningkatnya pencemaran udara tidak terlepas dari masih masifnya kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di berbagai wilayah Sumatra Selatan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat sepanjang September 2026 telah terdeteksi sebanyak 16.670 titik panas atau hotspot di wilayah Sumatra Selatan. Jumlah tersebut menunjukkan tingginya aktivitas kebakaran yang terjadi selama musim kemarau tahun ini. Selain tingginya jumlah titik panas, luas lahan yang terbakar juga terus bertambah. Hingga pertengahan September 2026, total area yang terdampak karhutla di Sumatra Selatan mencapai 6.552,31 hektare. Kebakaran terjadi di berbagai jenis lahan, mulai dari semak belukar, perkebunan, hingga kawasan gambut yang dikenal sulit dipadamkan karena api dapat membakar hingga ke lapisan bawah permukaan tanah.
Kondisi cuaca yang kering, minim curah hujan, serta angin yang cukup kuat turut mempercepat penyebaran api dan asap ke berbagai daerah. Akibatnya, dampak karhutla tidak hanya dirasakan di lokasi kebakaran, tetapi juga menyebar hingga ke kawasan permukiman dan pusat aktivitas masyarakat, termasuk Kota Palembang yang menjadi salah satu wilayah terdampak paling signifikan. Pemerintah daerah bersama BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, serta berbagai pihak terkait terus melakukan upaya pemadaman baik melalui jalur darat maupun udara. Berbagai langkah mitigasi juga dilakukan untuk mencegah meluasnya kebakaran, termasuk patroli terpadu, sosialisasi larangan membuka lahan dengan cara membakar, hingga penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan.
Di tengah kondisi kabut asap yang masih menyelimuti wilayah tersebut, masyarakat diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker saat beraktivitas, memperbanyak konsumsi air putih, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gangguan pernapasan yang berkelanjutan. Warga berharap upaya penanganan karhutla dapat segera membuahkan hasil sehingga kebakaran dapat dikendalikan dan kualitas udara kembali membaik. Harapan tersebut muncul seiring meningkatnya kekhawatiran masyarakat terhadap dampak kesehatan dan aktivitas sehari-hari yang terganggu akibat kabut asap yang terus berlangsung.