11 Tersangka Pabrik Sabu Pidie Ditangkap, Polisi Telusuri Pengendali dan Penyandang Dana
Nasional

11 Tersangka Pabrik Sabu Pidie Ditangkap, Polisi Telusuri Pengendali dan Penyandang Dana

F
Fazlur Rahman 26 Oktober 2026 · 2 penayangan

Pengungkapan laboratorium gelap narkotika jenis sabu di Kabupaten Pidie, Aceh, membuka dugaan keterlibatan jaringan narkoba internasional lintas negara. Sindikat yang dikenal dengan nama Golden Peacock disebut memiliki keterkaitan dengan jaringan dari China, Malaysia, dan Indonesia. Sementara itu, aparat masih memburu sosok yang diduga menjadi pengendali utama sekaligus penyandang dana operasi tersebut.

Laboratorium gelap atau clandestine laboratory

Pengungkapan ini menjadi sorotan karena skala barang bukti yang disita mencapai sekitar 1,2 ton, dengan nilai yang disebut mencapai Rp2,16 triliun. Barang bukti tersebut terdiri atas sabu dalam bentuk cair yang siap diolah serta sabu kristal. Besarnya jumlah bahan dan hasil olahan yang ditemukan memperlihatkan potensi serius dari aktivitas laboratorium tersebut apabila narkotika itu berhasil diproses dan diedarkan.

Dalam pengembangan kasus, para tersangka diduga memiliki peran berbeda, mulai dari peracik narkotika, asisten koki, jaringan lokal, hingga pihak yang bertugas mendukung distribusi dan operasional wilayah. Pembagian peran tersebut menjadi salah satu fokus penyidikan untuk mengungkap cara kerja jaringan secara menyeluruh.

Dua warga negara asing asal China berinisial LJ dan XM disebut berperan sebagai koki utama serta peracik ahli. Keduanya diduga didatangkan untuk menjalankan proses produksi sabu berkualitas tinggi yang dikenal dengan sebutan Blue Ice

Sementara itu, empat warga negara Indonesia berinisial F, MY, AK, dan AY disebut sebagai asisten koki serta bagian dari jaringan lokal. Mereka diamankan langsung di lokasi penggerebekan di Pidie. Aparat kini perlu mendalami hubungan para tersangka tersebut dengan pihak yang diduga mengatur pendirian laboratorium, memasok bahan baku, dan mengendalikan aktivitas produksi.

Penyidikan kemudian berkembang ke sejumlah wilayah di Aceh. Lima orang lainnya, masing-masing berinisial RY, RM, RZ, MN, dan B YAN, ditangkap di wilayah Bireuen, Lhokseumawe, dan Aceh Utara. Mereka diduga memiliki keterkaitan dengan fungsi kurir maupun operasional jaringan di wilayah tersebut.

Dengan demikian, total 11 orang telah diamankan dalam rangkaian pengungkapan dan pengembangan perkara. Penangkapan di beberapa daerah menunjukkan bahwa penyidik tidak hanya berfokus pada aktivitas di dalam laboratorium, tetapi juga menelusuri kemungkinan keterlibatan pihak-pihak yang mendukung pergerakan barang, logistik, dan jaringan operasional di luar lokasi produksi.

Nama Golden Peacock disebut dalam informasi mengenai dugaan keterkaitan jaringan internasional yang berada di balik operasi tersebut. Jaringan ini diduga memiliki hubungan lintas negara, termasuk China, Malaysia, dan Indonesia. Namun, hubungan masing-masing tersangka dengan sindikat tersebut, termasuk struktur komando dan jalur pendanaan, tetap harus dibuktikan melalui penyidikan lebih lanjut.

Salah satu sasaran utama pengembangan perkara adalah sosok yang diduga menjadi big boss

Pengungkapan aktor intelektual dinilai penting untuk membongkar jaringan hingga ke tingkat paling atas. Tanpa menelusuri sumber pendanaan, pemasok bahan baku, dan pihak yang memberikan perintah, penindakan berisiko hanya menjangkau pelaku yang terlibat langsung dalam produksi dan operasional sehari-hari.

Besarnya nilai barang bukti, yang diperkirakan mencapai Rp2,16 triliun, juga menempatkan kasus ini sebagai salah satu pengungkapan narkotika berskala besar yang menyita perhatian. Nilai tersebut menggambarkan besarnya potensi ekonomi ilegal yang berkaitan dengan narkotika yang ditemukan, meskipun nilai akhir dan rincian barang bukti tetap bergantung pada hasil pemeriksaan serta keterangan resmi aparat.

Aparat gabungan masih melanjutkan penyelidikan untuk memastikan seluruh peran dalam jaringan tersebut, termasuk kemungkinan adanya pelaku lain yang belum tertangkap. Penelusuran terhadap jaringan lintas wilayah dan dugaan hubungan internasional juga menjadi bagian penting untuk mencegah aktivitas serupa kembali berlangsung.

Kasus pabrik sabu di Pidie tidak hanya berkaitan dengan penemuan laboratorium narkotika dalam jumlah besar, tetapi juga membuka dugaan adanya sistem produksi dan operasional yang melibatkan sejumlah orang dengan tugas berbeda. Penangkapan 11 tersangka menjadi langkah awal, sedangkan pengungkapan pengendali utama dan sumber pendanaan akan menentukan sejauh mana jaringan yang diduga berada di balik laboratorium tersebut dapat dibongkar secara menyeluruh.

Topik

Memuat tag...