Terungkap Strategi “Kuda Troya” Mahasiswa Tembus Barikade Bundaran HI, Aparat Terkecoh dari Berbagai Arah
Nasional

Terungkap Strategi “Kuda Troya” Mahasiswa Tembus Barikade Bundaran HI, Aparat Terkecoh dari Berbagai Arah

F
Fazlur Rahman 02 November 2026 · 2 penayangan

Istilah “kuda troya” mendadak menjadi perbincangan hangat di media sosial setelah massa mahasiswa bersama elemen masyarakat sipil berhasil mencapai kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, dalam demonstrasi pada Rabu (28/10/2026). Strategi yang digunakan untuk menembus barikade aparat keamanan itu menarik perhatian publik karena kawasan Bundaran HI sebelumnya dikenal sebagai salah satu titik yang sulit dijangkau demonstran.

Keberhasilan massa mencapai lokasi tersebut tidak terjadi secara spontan. Di balik pergerakan demonstran, terdapat strategi yang disusun melalui serangkaian diskusi dan analisis terhadap kondisi geografis kawasan Bundaran HI. Mahasiswa mempelajari akses jalan yang memungkinkan mereka mencapai titik aksi tanpa harus berhadapan langsung dengan barikade utama yang selama ini dipasang aparat.

Wakil Kepala Departemen Aksi dan Propaganda Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI), Lionel Sihaloho, membenarkan bahwa strategi kuda troya digunakan dalam aksi tersebut. Saat dihubungi pada Jumat (30/10/2026), Lionel menjelaskan bahwa skema itu disusun setelah mahasiswa beberapa kali gagal menembus kawasan Bundaran HI dalam demonstrasi sebelumnya.

Dalam aksi-aksi terdahulu, aparat keamanan biasanya memusatkan pengamanan di Jalan Jenderal Sudirman, tepatnya sekitar 400 meter sebelum Bundaran HI. Akibatnya, massa yang bergerak dari arah selatan selalu tertahan di kawasan tersebut dan tidak dapat mencapai lokasi yang menjadi tujuan demonstrasi.

Pengalaman itu kemudian menjadi bahan evaluasi bagi mahasiswa. Bersama sejumlah elemen gerakan mahasiswa, mereka mulai membedah kondisi geografis Bundaran HI untuk mencari kemungkinan akses lain. Kawasan tersebut diketahui memiliki empat jalur utama, yakni dari arah selatan melalui Jalan Jenderal Sudirman, arah utara melalui kawasan Thamrin dan Sarinah, arah timur melalui Jalan Imam Bonjol dan Menteng, serta arah barat melalui kawasan Kebon Kacang.

Dari hasil pembahasan tersebut, mahasiswa memperkirakan aparat tidak akan menutup seluruh akses menuju Bundaran HI secara bersamaan. Pertimbangannya, kawasan itu merupakan salah satu pusat aktivitas ekonomi dan pemerintahan di Jakarta. Penutupan seluruh jalur dinilai berpotensi mengganggu mobilitas masyarakat serta aktivitas perkotaan secara luas.

Atas dasar analisis tersebut, mahasiswa memperkirakan aparat akan kembali memusatkan penjagaan di jalur selatan, sebagaimana yang dilakukan dalam demonstrasi sebelumnya. Mereka kemudian menyusun strategi dengan memanfaatkan akses dari arah lain agar pergerakan massa tidak hanya bergantung pada satu jalur.

Dalam pelaksanaannya, strategi tersebut melibatkan pembagian kelompok dan penggunaan sejumlah moda transportasi. Laporan mengenai skema aksi menyebutkan adanya kelompok yang bergerak lebih awal menggunakan bus untuk mengalihkan perhatian aparat di sekitar kawasan UOB Plaza. Sementara itu, kelompok mahasiswa lainnya bergerak melalui jalur alternatif menggunakan angkutan kota dan transportasi umum, termasuk MRT. 

Pergerakan dari beberapa arah itu membuat pengamanan yang sebelumnya terkonsentrasi di jalur selatan menghadapi situasi berbeda. Sejumlah rombongan mahasiswa akhirnya berhasil mencapai kawasan Bundaran HI dan menyampaikan aspirasi mereka di lokasi tersebut. Momen kedatangan massa, termasuk rombongan yang menggunakan angkutan kota, kemudian beredar luas di media sosial dan memicu perhatian warganet.

Istilah kuda troya sendiri merujuk pada kisah dalam mitologi Yunani tentang strategi pasukan Yunani untuk menaklukkan Kota Troya. Dalam kisah tersebut, pasukan Yunani menggunakan kuda kayu sebagai siasat untuk masuk ke dalam kota yang sebelumnya sulit ditembus. Istilah itu kemudian digunakan secara luas untuk menggambarkan strategi yang mengandalkan pengalihan perhatian dan pendekatan tidak langsung demi mencapai tujuan.

Dalam konteks demonstrasi 28 Oktober, penyebutan kuda troya merujuk pada cara mahasiswa mengatur pergerakan massa dari beberapa jalur sekaligus, bukan semata-mata menerobos barikade secara langsung. Strategi tersebut memperlihatkan bagaimana pengalaman dari aksi sebelumnya digunakan sebagai bahan evaluasi untuk menyusun pola mobilisasi yang berbeda.

Keberhasilan mahasiswa mencapai Bundaran HI pun menjadi salah satu cerita yang paling banyak dibicarakan setelah demonstrasi tersebut. Di balik ramainya istilah kuda troya, peristiwa ini menunjukkan bahwa perencanaan rute, pembagian kelompok, dan pemanfaatan akses transportasi menjadi bagian penting dari strategi massa dalam menyampaikan aspirasi di ruang publik.

Topik

Memuat tag...