Hujan Deras Picu Banjir dan Puting Beliung di Banjar, 175 Warga Terdampak di Tengah Karhutla Kalsel
Nasional

Hujan Deras Picu Banjir dan Puting Beliung di Banjar, 175 Warga Terdampak di Tengah Karhutla Kalsel

F
Fazlur Rahman 30 Oktober 2026 · 2 penayangan

Hujan deras yang mulai mengguyur sejumlah wilayah memicu cuaca ekstrem di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bencana tersebut berdampak pada 175 orang. Situasi ini menjadi perhatian karena Kalimantan Selatan masih menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang membutuhkan penanganan serius.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan bahwa hujan mulai turun di sejumlah wilayah Indonesia dan memicu berbagai kejadian bencana. Di Kabupaten Banjar, cuaca ekstrem dilaporkan menimbulkan dampak bagi masyarakat, sementara banjir juga terjadi di sejumlah daerah lain.

“Di Banjar tadi kami sampaikan di Banjar ada cuaca ekstrem di sana yang terdampak juga ada 175 orang,” kata Berton dalam konferensi pers BNPB pada Rabu (28/10/2026).

Cuaca ekstrem di Kabupaten Banjar mencakup kejadian banjir dan angin puting beliung. Angin kencang yang disertai hujan lebat dilaporkan melanda sejumlah desa, menyebabkan kerusakan rumah warga dan pohon tumbang. Kondisi tersebut menambah tantangan bagi pemerintah daerah dalam melakukan pendataan serta penanganan dampak bencana.

Berdasarkan laporan terkait kejadian tersebut, angin puting beliung menerjang Desa Sungai Alat di Kecamatan Astambul serta Desa Sungai Rangas Hambuku, Desa Sungai Rangas Ulu, Desa Sungai Batang Ilir, dan Desa Penggalaman di Kecamatan Martapura Barat. Sekitar 35 kepala keluarga dilaporkan terdampak kejadian angin puting beliung tersebut.

Di tengah munculnya bencana akibat hujan, ancaman karhutla di Kalimantan Selatan juga belum sepenuhnya berakhir. BNPB mencatat masih terdapat sekitar 75 hektare lahan yang mengalami kebakaran di provinsi tersebut. Kondisi ini membuat penanganan bencana di Kalsel perlu dilakukan secara bersamaan, baik untuk menghadapi dampak hujan deras maupun mengendalikan kebakaran lahan.

Berton menegaskan bahwa pemerintah perlu memberikan perhatian serius terhadap dua jenis bencana tersebut. Menurutnya, penanganan tidak bisa hanya berfokus pada satu kejadian karena banjir dan karhutla sama-sama berpotensi menimbulkan dampak bagi masyarakat serta lingkungan.

“Jadi kami sampaikan, di Kalsel, selain banjir, juga terdapat karhutla. Selain karhutla, ada banjir, sehingga ini perlu kita tangani secara serius tentunya,” ujar Berton.

BNPB juga mengingatkan pemerintah daerah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi basah, yakni bencana yang berkaitan dengan kondisi cuaca dan curah hujan, seperti banjir, tanah longsor, serta angin kencang. Antisipasi diperlukan agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat ketika kondisi cuaca memburuk.

Di Kabupaten Banjar, langkah penanganan mencakup pendataan dampak kejadian serta koordinasi antara BPBD dan pemerintah setempat. Pendataan tersebut diperlukan untuk mengetahui kondisi warga terdampak, tingkat kerusakan, dan kebutuhan bantuan yang perlu diprioritaskan.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa perubahan kondisi cuaca dapat menghadirkan tantangan kebencanaan yang berbeda dalam waktu bersamaan. Ketika hujan deras memicu banjir dan angin puting beliung, kebakaran hutan dan lahan masih membutuhkan pengawasan serta penanganan berkelanjutan.

Dengan kondisi tersebut, koordinasi antarlembaga, pemantauan cuaca, dan kesiapan bantuan bagi masyarakat menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko bencana. BNPB mengimbau pemerintah daerah untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem, sementara masyarakat di wilayah rawan diharapkan mengikuti informasi resmi dan arahan petugas demi menjaga keselamatan.

Topik

Memuat tag...