Eks Kasat Reskrim Polres Wonogiri Kompol Aditia Mulya Ramdhani Meninggal Dunia
Nasional

Eks Kasat Reskrim Polres Wonogiri Kompol Aditia Mulya Ramdhani Meninggal Dunia

D
Devi Sry Atmaja 30 Oktober 2026 · 2 penayangan

Eks Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Wonogiri, Kompol Aditia Mulya Ramdhani, meninggal dunia pada Senin (26/10/2026). Ia mengembuskan napas terakhir setelah mengalami koma sejak tahun 2019. Kondisi koma tersebut merupakan akibat dari peristiwa pengeroyokan oleh kelompok pesilat. Kabar duka ini disampaikan pihak kepolisian Jawa Tengah. Kabid Humas Polda Jawa Tengah Kombes Pol Yuliyanto membenarkan kabar meninggalnya Aditia. Saat peristiwa terjadi pada 2019, Aditia masih berpangkat Ajun Komisaris Polisi atau AKP. Ia dikeroyok ketika sedang membubarkan bentrok antara dua kelompok perguruan silat di Kabupaten Wonogiri. Insiden tersebut meninggalkan cedera berat di bagian kepalanya.

Akibat cedera kepala yang dialami, Aditia sempat dibawa berobat ke luar negeri. Upaya pengobatan intensif dilakukan agar kondisinya membaik. Namun, ia tetap berada dalam kondisi koma selama bertahun-tahun. Perjuangan panjang menghadapi sakit berakhir dengan berpulangnya sang perwira pada Senin ini. Rencana pemakaman Kompol Aditia Mulya Ramdhani dijadwalkan pada Senin, 26 Oktober 2026, pukul 15.00 WIB. Keluarga dan rekan-rekan sejawat diperkirakan akan mengantarkan kepergiannya. Suasana duka menyelimuti lingkungan Polres Wonogiri dan Polda Jawa Tengah. Penghormatan terakhir akan diberikan kepada almarhum. Polda Jawa Tengah menyampaikan ucapan duka cita mendalam atas meninggalnya almarhum.

“Kami dari Polda Jateng merasa kehilangan, semoga beliau husnulkhatimah,” ucap Yuliyanto. 

Peristiwa yang menimpa Aditia pada 2019 menjadi catatan kelam dalam tugas kepolisian di Wonogiri. Saat itu, ia menjalankan tugas membubarkan bentrok antar kelompok pesilat. Pengorbanan dalam menjalankan tugas berujung pada cedera serius yang mengubah hidupnya. Koma panjang hingga tujuh tahun menjadi ujian berat bagi keluarga dan rekan-rekannya. Selama masa koma, keluarga Aditia terus memberikan dukungan dan perawatan. Upaya pengobatan ke luar negeri menunjukkan kesungguhan mencari kesembuhan. Namun, kondisi medis yang dialami tidak memungkinkan pemulihan penuh. Akhirnya, sang perwira menghembuskan napas terakhir di usia yang masih relatif muda.

Kompol Aditia Mulya Ramdhani dikenang sebagai perwira yang menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab. Sebagai Kasat Reskrim Polres Wonogiri, ia terlibat langsung dalam penanganan berbagai perkara. Termasuk di dalamnya adalah upaya menjaga ketertiban saat terjadi bentrok antar kelompok. Pengabdiannya di dunia kepolisian diakhiri dengan pengorbanan jiwa. Kombes Pol Yuliyanto sebagai juru bicara Polda Jateng menjadi pihak yang menyampaikan konfirmasi resmi. Keterangan mengenai kronologi pengeroyokan dan kondisi koma sejak 2019 disampaikan secara terbuka. Transparansi informasi menjadi bagian dari penghormatan kepada almarhum. Publik memperoleh kejelasan mengenai penyebab kematiannya.

Jadwal pemakaman pada Senin sore pukul 15.00 WIB memungkinkan rekan-rekan sejawat untuk memberikan penghormatan terakhir. Upacara pemakaman diperkirakan akan diwarnai suasana haru. Anggota Polri di wilayah Jawa Tengah turut berduka cita. Kehilangan seorang perwira yang pernah berjasa dirasakan bersama. Cedera berat di bagian kepala yang dialami Aditia akibat pengeroyokan menjadi penyebab utama kondisi komanya. Bentrok dua kelompok perguruan silat di Wonogiri pada 2019 berujung pada tragedi personal bagi sang perwira. Tugas membubarkan keributan justru membuatnya menjadi korban kekerasan. Insiden tersebut menjadi pelajaran pahit dalam penanganan konflik di lapangan.

Polda Jawa Tengah melalui Kabid Humas-nya menyampaikan doa agar almarhum husnulkhatimah. Ungkapan duka cita tersebut mewakili seluruh jajaran kepolisian di Jawa Tengah. Pengorbanan Aditia dalam menjalankan tugas dihormati oleh institusi. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Selama tujuh tahun dalam kondisi koma, Aditia menjadi simbol perjuangan panjang menghadapi akibat kekerasan. Keluarga yang setia merawatnya menunjukkan keteguhan di tengah kesulitan. Kini, setelah sang perwira berpulang, doa dan penghormatan menjadi cara terbaik mengenangnya. Jejak pengabdiannya di Polres Wonogiri tetap dikenang.

Peristiwa pengeroyokan terhadap petugas kepolisian saat menjalankan tugas menjadi pengingat akan risiko yang dihadapi aparat. Bentrok antar kelompok silat yang sempat terjadi di Wonogiri meninggalkan luka mendalam. Kematian Aditia setelah bertahun-tahun koma menutup satu babak kelam tersebut. Penegakan hukum terhadap pelaku kala itu menjadi bagian dari proses yang telah berjalan.

Topik

Memuat tag...