Nasional

Solidaritas Masyarakat Mengalir Deras: Saat Aksi Mahasiswa di Jakarta Berlangsung

F
Fazlur Rahman 13 Juni 2026 · 4 penayangan

Jakarta – Jumat (12/6/2026), gelombang aksi mahasiswa yang digelar di Bundaran Hotel Indonesia (HI) dan sekitarnya tidak hanya menjadi suara generasi muda yang menyuarakan keresahan ekonomi, tetapi juga memicu gelombang dukungan luar biasa dari berbagai elemen masyarakat. Berbeda dengan kesan aksi demonstrasi di masa lalu yang kerap diwarnai ketegangan, kali ini masyarakat sipil justru tampil sebagai pilar utama solidaritas, menciptakan suasana yang lebih harmonis dan penuh empati.

Sejak pagi hingga sore hari, ribuan mahasiswa dari Universitas Indonesia (UI), IPB, UPN, dan kampus lainnya menyampaikan lima tuntutan utama. Antara lain penghentian pemborosan APBN, penurunan harga kebutuhan pokok dan BBM, evaluasi program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih, penghentian militerisme di ranah sipil, serta dorongan agar pemerintah lebih transparan mengakui tantangan ekonomi yang dihadapi rakyat. Meski sempat menghadapi pengalihan rute dan pengawasan ketat aparat, aksi berjalan dengan tertib. Rombongan terakhir mahasiswa telah kembali ke kampus pada sore hari, meninggalkan kawasan steril dari massa pelajar.

Yang paling mencolok hari ini adalah betapa massif dan tulusnya dukungan dari masyarakat luas. Bukan hanya netizen di media sosial yang ramai menyuarakan apresiasi, tetapi juga warga biasa di lapangan. Pedagang kaki lima di sekitar lokasi seperti kawasan Gelora Bung Karno (GBK) dan Semanggi terlihat antusias menyemangati para demonstran. Beberapa video viral menunjukkan pedagang menawarkan makanan dan minuman sambil memberikan semangat.

Lebih menyentuh lagi, sekelompok ibu-ibu membuka posko logistik spontan di depan Hotel Kempinski yang kemudian bergeser ke area Mandarin Oriental. Mereka menyediakan camilan, air minum, dan kebutuhan dasar lainnya secara gratis dengan pesan sederhana: “Beneran gratis, ga pake uang pajakmu.” Posko medis dan tim relawan kemanusiaan juga hadir, memperlihatkan semangat gotong royong yang khas Indonesia.

“Terima kasih masyarakat, terima kasih mahasiswa, terima kasih netizen, terima kasih untuk seluruh orang yang sudah saling dukung hari ini. Panjang umur orang-orang baik,” demikian ungkap salah seorang pendukung aksi di media sosial yang kini viral. Pesan serupa ramai beredar, menandakan adanya pergeseran persepsi. Masyarakat kini lebih melihat aksi ini sebagai bagian dari demokrasi sehat, bukan sebagai gangguan.

Dengan pulangnya rombongan mahasiswa terakhir, kawasan aksi kini steril dari massa pelajar. Namun, bagi mereka yang masih stay untuk menjaga aspirasi hingga malam, para pendukung mengingatkan agar selalu menjaga diri dan sesama. “Semakin malam, semakin rawan,” tulis seorang netizen yang juga aktif mendukung jalannya aksi secara damai.

Polisi yang mengawal aksi juga tampak berupaya menjaga situasi tetap kondusif, meski sempat terjadi pengadangan di beberapa titik seperti Semanggi dan depan gedung DPR/MPR. Hingga berita ini diturunkan, tidak dilaporkan kerusuhan berarti, melainkan lebih banyak dialog dan interaksi positif antara demonstran, warga, dan aparat.

Aksi hari ini menunjukkan bahwa suara mahasiswa tidak lagi berdiri sendiri. Dukungan dari pedagang, ibu rumah tangga, buruh, guru, dan netizen menciptakan narasi baru: perubahan yang diinginkan adalah perubahan bersama. Banyak yang menilai ini sebagai tanda kedewasaan demokrasi Indonesia, di mana kritik disampaikan dengan cara yang elegan dan didukung secara luas oleh masyarakat sipil.

Seperti yang disampaikan Ketua BEM UI Yatalathof Ma’shum Imawan, aksi ini bertujuan menyadarkan publik bahwa situasi ekonomi saat ini “tidak baik-baik saja”. Dan masyarakat, melalui berbagai bentuk solidaritasnya, telah memberikan respons yang jelas: kami mendengar dan kami dukung.

Pemerintah diharapkan dapat merespons tuntutan ini dengan bijak, sementara masyarakat dan mahasiswa terus menjaga semangat persatuan ini. Karena pada akhirnya, Indonesia maju bukan hanya soal kebijakan di atas, melainkan juga kekuatan gotong royong di bawah.

Topik

Memuat tag...