Serangan Hacker Guncang Prancis! Sistem Pendingin Bank Darah Diretas hingga Suhu 110 Derajat Celsius, Ribuan Pasokan Transfusi Terancam
Berita International

Serangan Hacker Guncang Prancis! Sistem Pendingin Bank Darah Diretas hingga Suhu 110 Derajat Celsius, Ribuan Pasokan Transfusi Terancam

D
Devi Sry Atmaja 05 November 2026 · 2 penayangan

PARIS – Serangan siber kembali mengguncang Eropa. Kali ini, fasilitas penyimpanan darah milik Lembaga Donor Darah Nasional Prancis atau Établissement Français du Sang (EFS) dilaporkan menjadi sasaran peretasan. Pelaku diduga menyusup ke sistem pengendalian pendingin dan mengubah pengaturan suhu secara ekstrem hingga mencapai 110 derajat Celsius, jauh dari kondisi penyimpanan normal yang disebut berada di kisaran minus 30 derajat Celsius. Insiden tersebut memicu kekhawatiran karena fasilitas yang menjadi sasaran menyimpan ribuan sampel darah, kantong plasma, serta berbagai komponen biologis yang dibutuhkan untuk pelayanan transfusi dan produksi obat-obatan. Gangguan terhadap fasilitas semacam ini berpotensi menimbulkan dampak serius, terutama apabila sistem pengamanan gagal mencegah perubahan suhu yang dapat merusak material medis.

Berdasarkan informasi yang beredar, pelaku diduga sengaja memprogram ulang sistem pengendali suhu lemari pendingin untuk memicu kenaikan temperatur secara tidak wajar. Tindakan tersebut mengindikasikan bahwa serangan tidak sekadar bertujuan mengganggu jaringan komputer, tetapi juga menyasar sistem operasional yang mengendalikan perangkat fisik di fasilitas kesehatan. Beruntung, sistem alarm otomatis dilaporkan berhasil mendeteksi perubahan suhu yang tidak normal. Mekanisme peringatan tersebut memungkinkan petugas mengetahui adanya anomali sebelum kondisi penyimpanan mengalami kerusakan yang lebih luas. Respons sistem pengamanan menjadi faktor penting dalam mencegah ancaman terhadap persediaan darah dan plasma.

Seluruh pasokan darah dilaporkan berhasil diselamatkan tanpa kerugian material. Kejadian ini sekaligus memperlihatkan betapa pentingnya sistem pemantauan otomatis dalam fasilitas kesehatan modern, khususnya tempat penyimpanan bahan biologis yang sangat sensitif terhadap perubahan temperatur. Meski tidak menimbulkan kerusakan terhadap persediaan darah, insiden tersebut tetap menjadi peringatan serius bagi otoritas Prancis. Serangan terhadap fasilitas EFS menunjukkan bahwa infrastruktur kesehatan dapat menjadi sasaran kejahatan siber dengan konsekuensi yang tidak hanya menyangkut kehilangan data, tetapi juga keselamatan dan keberlangsungan pelayanan medis.

Ancaman semakin menjadi perhatian karena serangan tersebut disebut terjadi di tengah rangkaian insiden siber yang menyasar sejumlah sektor strategis di Eropa. Pada hari yang sama, salah satu bank koperasi besar di Prancis, Crédit Mutuel Arkéa, juga dilaporkan mengalami serangan siber. Kejadian tersebut menambah daftar institusi penting yang menghadapi ancaman terhadap sistem digitalnya. Serangan terhadap lembaga keuangan dan fasilitas kesehatan memperlihatkan luasnya potensi dampak kejahatan siber. Kedua sektor tersebut memiliki karakteristik berbeda, tetapi sama-sama bergantung pada sistem teknologi informasi untuk menjalankan operasional sehari-hari. Gangguan pada salah satu sistem dapat memengaruhi layanan yang dibutuhkan masyarakat luas.

Sebelumnya, serangan terhadap sistem pendingin di sejumlah supermarket di Prancis, Belgia, dan Belanda juga dilaporkan menimbulkan kerugian besar. Gangguan tersebut menyebabkan fasilitas penyimpanan makanan beku tidak dapat beroperasi sebagaimana mestinya, sehingga sejumlah peritel terpaksa membuang berton-ton produk yang tidak lagi memenuhi persyaratan penyimpanan. Kerugian akibat gangguan rantai pendingin di sektor ritel tersebut disebut mencapai nilai yang sangat besar, bahkan diperkirakan setara triliunan rupiah. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh perusahaan pemilik supermarket, tetapi juga berpotensi memengaruhi distribusi pangan, biaya operasional, dan ketersediaan produk bagi konsumen.

Rangkaian kejadian ini memperlihatkan bahwa serangan siber terhadap sistem operasional teknologi atau Operational Technology (OT) memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan peretasan komputer biasa. Sistem OT mengendalikan perangkat fisik seperti pendingin industri, mesin produksi, pengatur suhu, hingga berbagai fasilitas infrastruktur penting. Ketika sistem tersebut berhasil diganggu, dampaknya dapat menjalar langsung ke dunia nyata. Perubahan pengaturan mesin, gangguan pengendalian temperatur, hingga terhentinya proses produksi dapat menyebabkan kerusakan barang, kerugian ekonomi, dan bahkan membahayakan keselamatan manusia apabila menyangkut fasilitas pelayanan publik.

Para pengelola infrastruktur penting karena itu perlu memperkuat perlindungan sistem digital sekaligus memastikan perangkat fisik memiliki mekanisme pengamanan mandiri. Pemisahan jaringan operasional dari jaringan umum, pemantauan aktivitas yang mencurigakan, pencadangan konfigurasi, serta pengujian alarm menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi risiko serangan. Kasus di Prancis juga menjadi pengingat bahwa sistem keamanan siber tidak cukup hanya mengandalkan perangkat lunak antivirus atau perlindungan jaringan komputer. Infrastruktur yang terhubung dengan perangkat fisik membutuhkan pengawasan berlapis, prosedur tanggap darurat, dan kesiapan petugas untuk mengambil tindakan apabila sistem menunjukkan kondisi tidak normal.

Hingga informasi mengenai insiden tersebut dapat dikonfirmasi lebih lanjut melalui keterangan resmi otoritas dan lembaga terkait, detail mengenai identitas kelompok peretas, metode penyusupan, serta keterkaitan antara sejumlah serangan di Eropa masih perlu diverifikasi. Namun, kejadian ini menegaskan bahwa perlindungan infrastruktur kesehatan, perbankan, dan rantai pasok pangan harus menjadi perhatian serius. Sebab, di era ketika hampir seluruh fasilitas penting bergantung pada teknologi digital, satu gangguan siber saja dapat menimbulkan konsekuensi besar bagi kehidupan masyarakat.

Topik

Memuat tag...