Ribuan Migran dari Maroko Serbu Ceuta, Pemerintah Daerah Minta Darurat Nasional Ditolak Madrid
Berita International

Ribuan Migran dari Maroko Serbu Ceuta, Pemerintah Daerah Minta Darurat Nasional Ditolak Madrid

D
Devi Sry Atmaja 02 Agustus 2026 · 4 penayangan

Ceuta, Spanyol — Ribuan imigran ilegal asal Maroko membanjiri wilayah kecil Spanyol di Afrika Utara, Ceuta, pada Kamis (30/7/2026). Gelombang migrasi massal tersebut mendorong Kepala Pemerintahan Daerah Ceuta menyerukan agar Pemerintah Spanyol menyatakan keadaan darurat nasional.

Juan Jesús Vivas, pemimpin pemerintah otonom Ceuta, menilai situasi yang terjadi sudah tidak terkendali. Ia meminta pemerintah pusat di Madrid menetapkan status darurat nasional demi menjaga keamanan warga dan integritas perbatasan. Vivas juga meminta pengerahan tambahan personel keamanan, termasuk dukungan militer.

Namun, Kementerian Dalam Negeri Spanyol menolak permintaan tersebut. Kementerian menyatakan akan menjamin keselamatan warga serta integritas perbatasan negara, tetapi pemerintah tidak dapat menyatakan keadaan darurat nasional terkait masalah migrasi. Menurut pihak kementerian, isu migrasi tidak termasuk dalam kerangka hukum yang memungkinkan penetapan status darurat nasional.

Ribuan orang, mayoritas laki-laki muda, terlihat berbondong-bondong menyeberangi perbatasan. Sebagian berenang memutari pagar perbatasan di kawasan pantai, sementara yang lain mencoba menerobos pagar dan gerbang perbatasan. Rekaman video yang beredar menunjukkan suasana kacau di beberapa titik, termasuk di kawasan Pantai Tarajal yang selama ini dikenal sebagai salah satu jalur migrasi ilegal.

Pemerintah Spanyol kemudian mengerahkan personel Angkatan Bersenjata untuk membantu Garda Sipil mengamankan wilayah Ceuta. Perdana Menteri Pedro Sánchez juga dijadwalkan meninjau langsung situasi di lokasi.

Gelombang migrasi ini menyebabkan fasilitas penampungan di Ceuta kewalahan. Kapasitas penampungan jauh melampaui batas normal, sehingga menimbulkan tekanan besar terhadap layanan publik setempat.

Pemerintah Spanyol menyatakan terus berkoordinasi dengan otoritas Maroko untuk menangani arus migran. Sejumlah migran kemudian dipulangkan kembali ke Maroko dalam waktu singkat setelah insiden tersebut.

Kejadian di Ceuta ini bukan yang pertama kali terjadi. Wilayah enklave Spanyol tersebut berulang kali menjadi titik masuk migran dari Afrika Utara karena lokasinya yang berbatasan langsung dengan Maroko. Namun, skala kedatangan pada 30 Juli 2026 dinilai jauh lebih besar dibandingkan beberapa gelombang sebelumnya.

Hingga kini, otoritas Spanyol masih memantau situasi perbatasan sambil memastikan keamanan warga Ceuta tetap terjaga. Proses penanganan migran yang masuk secara ilegal terus dilakukan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Topik

Memuat tag...