Prabowo Sebut Pemimpin Asing Menghormatinya: “Mungkin Mereka Takut Sama Saya”
Nasional

Prabowo Sebut Pemimpin Asing Menghormatinya: “Mungkin Mereka Takut Sama Saya”

F
Fazlur Rahman 21 September 2026 · 3 penayangan

Presiden Prabowo Subianto kembali menjadi perhatian publik setelah pernyataannya mengenai hubungan Indonesia dengan para pemimpin negara lain beredar luas di media sosial. Dalam pernyataan tersebut, Prabowo mengatakan dirinya mendapat penghormatan dari para pemimpin asing, sebelum melontarkan kalimat bernada gurauan, “Mungkin mereka takut sama saya.”

Pernyataan itu muncul dalam konteks pembahasan mengenai posisi Indonesia di tengah dinamika hubungan internasional. Prabowo juga berbicara mengenai pentingnya memahami sejarah dan karakter kepemimpinan untuk melihat bagaimana sebuah negara menempatkan dirinya ketika berhadapan dengan kekuatan lain.

Potongan video yang memuat pernyataan tersebut kemudian menyebar di berbagai platform media sosial dan memunculkan beragam tanggapan. Sebagian pengguna membacanya sebagai gambaran kepercayaan diri seorang kepala negara ketika berbicara tentang posisi Indonesia. Sebagian lainnya menjadikan kalimat tersebut sebagai bahan candaan, meme, maupun komentar mengenai gaya komunikasi Prabowo. (threads.com

Meski demikian, kalimat tersebut perlu dibaca bersama konteks pernyataan Prabowo mengenai politik luar negeri Indonesia. Dalam sejumlah kesempatan, Presiden berulang kali menegaskan bahwa Indonesia memilih untuk bersahabat dengan berbagai negara dan tidak ingin membangun permusuhan dengan pihak mana pun.

Dalam Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah 2026 di Sentul, Bogor, misalnya, Prabowo menegaskan kembali politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif dan nonblok. Ia menyatakan Indonesia tidak akan bergabung dengan pakta militer mana pun. Filosofi yang disampaikannya adalah “seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak.”

Prabowo menjelaskan bahwa sikap tersebut merupakan kelanjutan dari garis politik luar negeri yang telah diwariskan para pendiri bangsa. Menurutnya, Indonesia ingin menjadi negara yang bersahabat dengan semua pihak, tetapi pada saat yang sama harus memiliki kemampuan nasional yang kuat untuk melindungi kepentingannya sendiri.

Pandangan serupa juga disampaikan Prabowo dalam berbagai kesempatan lain. Dalam forum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia pada Juni 2026, ia kembali mengatakan Indonesia tidak ingin terikat pada pakta militer mana pun dan memilih menjaga hubungan baik dengan berbagai negara. Ia bahkan mencontohkan pendekatannya terhadap sejumlah pemimpin dunia dengan menegaskan bahwa Indonesia tetap berupaya menjalin hubungan baik dengan berbagai kekuatan.

Prinsip tersebut menjadi salah satu ciri pendekatan diplomasi Prabowo sejak awal masa pemerintahannya. Dalam pidato pelantikan Presiden pada Oktober 2024, ia menegaskan Indonesia memilih jalan bebas aktif, nonblok, serta berusaha menjadi “tetangga yang baik” bagi seluruh negara.

Dalam kerangka itu, pembicaraan mengenai rasa hormat dari pemimpin negara lain dapat ditempatkan sebagai bagian dari cara Prabowo menggambarkan posisi Indonesia dalam pergaulan internasional. Penghormatan terhadap sebuah negara, dalam pandangan pemerintah, tidak hanya berkaitan dengan kekuatan militer, tetapi juga dengan kemampuan mempertahankan kepentingan nasional, membangun hubungan diplomatik, dan memiliki posisi tawar dalam kerja sama internasional.

Prabowo sendiri dalam sejumlah pidato juga menekankan bahwa kemandirian nasional merupakan syarat penting bagi negara yang memilih politik luar negeri bebas aktif. Dalam taklimat Rakornas 2026, ia mengatakan Indonesia harus mampu berdiri di atas kekuatannya sendiri karena dunia internasional berjalan berdasarkan realitas kekuatan.

Pernyataan tersebut kembali relevan ketika melihat aktivitas diplomasi Prabowo sepanjang 2026. Pada awal September, misalnya, ia menghadiri Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia

Dalam forum tersebut, Prabowo juga menempatkan hubungan ekonomi dan geopolitik dalam kerangka kerja sama yang lebih luas. Ia menekankan pentingnya kawasan Pasifik sebagai jalur ekonomi dan ruang kerja sama antara Indonesia dan negara-negara lain.

Karena itu, ucapan “mungkin mereka takut sama saya” tidak berdiri sendiri dalam keseluruhan narasi kebijakan luar negeri Prabowo. Dalam berbagai pernyataan resmi, Presiden lebih sering menekankan pentingnya memperbanyak mitra, menghindari permusuhan, serta mempertahankan kebebasan Indonesia dalam menentukan sikap terhadap berbagai blok kekuatan dunia.

Namun, bagian ucapan tersebut tetap menarik perhatian karena penggunaan bahasa yang lebih personal dan bernada bercanda. Media sosial kemudian membuat satu kalimat tersebut bergerak jauh lebih cepat daripada konteks lengkap pidato yang menyertainya.

Respons publik pun menjadi beragam. Potongan pernyataan itu digunakan sebagai bahan humor oleh sebagian pengguna media sosial, sementara pengguna lainnya membahasnya dalam konteks gaya komunikasi seorang presiden ketika berbicara mengenai posisi Indonesia di tingkat internasional. Perbedaan pembacaan tersebut menunjukkan bagaimana satu kalimat dari seorang kepala negara dapat memperoleh makna yang berbeda ketika dipisahkan dari konteks aslinya.

Di sisi lain, pembicaraan mengenai penghormatan dari negara lain bukan hal baru dalam diplomasi. Posisi sebuah negara biasanya dibentuk oleh banyak faktor, mulai dari kapasitas ekonomi, kekuatan pertahanan, ukuran pasar, posisi geografis, hubungan perdagangan, hingga kemampuan melakukan diplomasi dan membangun koalisi.

Indonesia memiliki posisi geografis yang strategis di Indo-Pasifik sekaligus merupakan negara dengan jaringan hubungan yang luas. Pemerintah Prabowo berupaya mempertahankan hubungan dengan berbagai kekuatan tanpa secara resmi masuk ke pakta militer tertentu. Prinsip tersebut terlihat dalam penegasan pemerintah mengenai politik bebas aktif dan keanggotaan Indonesia dalam berbagai forum multilateral.

Dalam konteks tersebut, Prabowo juga kerap menyampaikan pentingnya mempelajari sejarah ketika membicarakan hubungan antarnegara. Baginya, pengalaman masa lalu membantu menjelaskan mengapa Indonesia memilih untuk tidak bergantung pada satu kekuatan tertentu dan mengapa kemandirian nasional menjadi bagian penting dari kebijakan luar negeri.

Sejumlah pernyataan Prabowo memperlihatkan bahwa ia menghubungkan politik luar negeri dengan kekuatan domestik. Negara yang ingin memiliki kebebasan menentukan sikap, menurut garis pemikiran yang kerap disampaikannya, juga harus memiliki pertahanan, ekonomi, pangan, energi, dan kapasitas nasional yang kuat.

Karena itu, kalimat mengenai para pemimpin asing yang menghormatinya dapat ditempatkan dalam narasi yang lebih besar mengenai bagaimana Prabowo ingin Indonesia dipandang di dunia. Sementara bagian “mungkin mereka takut sama saya” merupakan ungkapan yang disampaikan dalam suasana komunikasi yang kemudian menjadi viral, tidak tersedia bukti independen yang menunjukkan bahwa para pemimpin asing memang merasa takut kepada Prabowo sebagai alasan mereka menghormatinya.

Yang dapat diverifikasi adalah posisi resmi Indonesia yang terus menekankan politik luar negeri bebas aktif, nonblok, serta upaya menjaga hubungan baik dengan berbagai negara. Presiden juga secara konsisten menyampaikan bahwa Indonesia tidak ingin memiliki musuh dan lebih memilih membangun sebanyak mungkin hubungan kerja sama.

Pada akhirnya, pernyataan Prabowo tersebut menjadi perbincangan bukan semata karena pilihan katanya, tetapi karena menyentuh pertanyaan yang lebih luas: bagaimana Indonesia ingin dipandang oleh dunia, seberapa besar pengaruh kepemimpinan terhadap posisi sebuah negara, dan bagaimana gaya komunikasi seorang presiden diterjemahkan oleh publik.

Di tengah dunia yang semakin dipenuhi persaingan geopolitik, Prabowo tetap menempatkan Indonesia pada garis politik bebas aktif dan nonblok. Sementara ucapan “mungkin mereka takut sama saya”

Topik

Memuat tag...