'Kampung Hantu' Muncul di Bendungan Karian Lebak, Bekas Permukiman Kembali Terlihat akibat Kemarau Ekstrem
Nasional

'Kampung Hantu' Muncul di Bendungan Karian Lebak, Bekas Permukiman Kembali Terlihat akibat Kemarau Ekstrem

D
Devi Sry Atmaja 02 Agustus 2026 · 5 penayangan

LEBAK – Fenomena tak biasa terjadi di kawasan Bendungan Karian, Kabupaten Lebak, Banten. Bekas permukiman warga yang selama ini tenggelam di dasar waduk tiba-tiba kembali muncul ke permukaan setelah debit air menyusut drastis akibat musim kemarau. Pemandangan tersebut sontak menarik perhatian masyarakat dan memunculkan sebutan "kampung hantu" karena deretan tembok rumah yang telah lama terendam kini kembali terlihat.

Kemunculan kembali sisa-sisa bangunan tersebut bukan disebabkan oleh peristiwa misterius, melainkan akibat turunnya permukaan air waduk yang cukup signifikan selama musim kemarau tahun ini. Kondisi itu membuat bagian dasar bendungan yang selama ini tertutup air perlahan muncul ke permukaan, memperlihatkan jejak permukiman yang dahulu harus direlokasi sebelum pembangunan bendungan.

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau Ciujung Cidurian (BBWSC3), Dedi Yudha Lesmana, mengatakan fenomena tersebut dipicu oleh kemarau yang berlangsung cukup ekstrem sehingga menyebabkan volume air di Bendungan Karian mengalami penyusutan. "Karena kemarau ekstrem sepertinya, baru kali ini terlihat," ujar Dedi Yudha Lesmana, Senin (27/7).

Menurut Dedi, fenomena munculnya bekas permukiman ini tergolong langka. Selama bendungan beroperasi, sisa-sisa bangunan tersebut hampir tidak pernah terlihat karena selalu berada di bawah permukaan air. Baru ketika musim kemarau berlangsung lebih panjang dengan curah hujan yang sangat minim, permukaan air menyusut hingga memperlihatkan kembali struktur bangunan lama.

Bendungan Karian merupakan salah satu proyek strategis nasional yang dibangun untuk memenuhi berbagai kebutuhan, mulai dari penyediaan air baku, irigasi pertanian, pengendalian banjir, hingga pembangkit energi. Sebelum kawasan tersebut digenangi air, terdapat sejumlah desa dan permukiman warga yang kemudian direlokasi sebagai bagian dari pembangunan bendungan.

Kini, yang tersisa hanyalah puing-puing bangunan berupa tembok rumah, pondasi, dan struktur lainnya yang menjadi saksi keberadaan kampung sebelum kawasan itu berubah menjadi waduk raksasa.

Kemunculan kembali bekas permukiman tersebut tidak hanya menjadi perhatian masyarakat sekitar, tetapi juga menarik minat sejumlah warga yang datang untuk melihat langsung fenomena langka tersebut. Banyak di antaranya mengabadikan momen tersebut melalui foto maupun video yang kemudian ramai dibagikan di media sosial.

Munculnya bekas kampung di dasar Bendungan Karian menjadi salah satu indikator dampak musim kemarau yang melanda sebagian besar wilayah Indonesia. Dalam beberapa pekan terakhir, berbagai daerah mengalami penurunan curah hujan yang menyebabkan debit sungai, waduk, hingga bendungan ikut menyusut.

Meski demikian, pihak BBWSC3 memastikan kondisi tersebut masih berada dalam pemantauan dan pengelolaan yang sesuai dengan kebutuhan operasional bendungan. Pengaturan volume air terus dilakukan untuk menjaga pasokan air bagi masyarakat sekaligus mengantisipasi dampak kekeringan yang lebih luas.

Fenomena "kampung hantu" di Bendungan Karian pun menjadi pengingat bahwa perubahan musim dapat menghadirkan pemandangan yang tidak biasa. Di balik kemunculan kembali bekas permukiman tersebut tersimpan sejarah panjang pembangunan bendungan serta kisah masyarakat yang pernah menghuni kawasan yang kini berada di dasar waduk.

Topik

Memuat tag...