Investasi Hartono Tembus Rp24,5 Triliun di Luar Negeri, Djarum Tegaskan Modal Tak Dipindahkan dari Indonesia
Nasional

Investasi Hartono Tembus Rp24,5 Triliun di Luar Negeri, Djarum Tegaskan Modal Tak Dipindahkan dari Indonesia

F
Fazlur Rahman 15 September 2026 · 4 penayangan

Keluarga Hartono, pemilik Grup Djarum, kembali menjadi sorotan setelah entitas yang terafiliasi dengan keluarga tersebut dilaporkan menggelontorkan sedikitnya US$1,4 miliar atau sekitar Rp24,5 triliun

Investasi dalam jumlah besar itu dilaporkan mencakup sejumlah sektor di luar negeri, mulai dari bisnis kertas di Amerika Serikat hingga akuisisi produsen kertas rokok di Austria. Langkah tersebut memunculkan perhatian publik karena selama ini keluarga Hartono dikenal memiliki basis bisnis yang sangat kuat di Indonesia.

Laporan mengenai ekspansi tersebut sebelumnya diungkap Bloomberg. Investasi dilakukan melalui entitas yang terafiliasi dengan keluarga Hartono, sehingga aktivitas tersebut menjadi bagian dari strategi ekspansi bisnis mereka ke pasar internasional.

Salah satu transaksi besar dilakukan pada akhir 2023 ketika entitas bernama Evergreen Hill Enterprise Pte Ltd dilaporkan mengeluarkan sekitar US$669 juta

Sekitar satu tahun kemudian, ekspansi kembali berlanjut ke Eropa. Evergreen Hill dilaporkan mengeluarkan sekitar €360 juta atau setara US$418 juta

Rangkaian transaksi tersebut menempatkan keluarga Hartono dalam arus ekspansi bisnis lintas negara yang nilainya tidak kecil. Diversifikasi semacam itu dapat menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memperluas pasar, menambah sumber pendapatan, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap satu wilayah bisnis.

Namun, besarnya nilai investasi tersebut kemudian memunculkan pertanyaan apakah ekspansi ke luar negeri merupakan bagian dari strategi memindahkan modal dari Indonesia.

PT Djarum membantah anggapan tersebut. Perusahaan menegaskan investasi yang dilakukan di luar negeri tidak dapat serta-merta dipahami sebagai aksi memindahkan modal keluar dari Indonesia.

Menurut Djarum, sumber pendanaan untuk transaksi tersebut antara lain berasal dari fasilitas kredit asing. Dengan demikian, nilai akuisisi yang dilaporkan tidak seluruhnya berasal dari dana yang dipindahkan dari dalam negeri.

Djarum juga menegaskan bahwa sebagian besar investasi keluarga Hartono tetap berada di Indonesia. Perusahaan menyebut sekitar 90 persen investasi keluarga Hartono masih berada di dalam negeri

Pernyataan tersebut menjadi penting di tengah munculnya perhatian terhadap ekspansi investasi keluarga Hartono di luar negeri. Djarum ingin menekankan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari strategi bisnis global, bukan tanda bahwa kelompok usaha tersebut meninggalkan pasar Indonesia.

Corporate Communications Manager PT Djarum Budi Darmawan juga menepis anggapan bahwa ekspansi global berkaitan dengan situasi politik domestik.

“Siapapun presidennya, siapapun penguasanya, kami harus terlibat aktif dalam mengembangkan ekonomi di negara yang kita cintai ini,” kata Budi Darmawan.

Pernyataan tersebut menegaskan posisi Djarum bahwa komitmen bisnis keluarga Hartono terhadap Indonesia tetap dipertahankan, terlepas dari siapa yang sedang memimpin pemerintahan.

Bagi kelompok usaha sebesar Djarum, ekspansi internasional dapat dilihat sebagai bagian dari upaya mengembangkan portofolio bisnis secara lebih luas. Akuisisi perusahaan di luar negeri memungkinkan perusahaan memiliki akses langsung ke pasar, jaringan distribusi, teknologi, serta basis produksi di negara lain.

Investasi pada industri kertas juga memiliki keterkaitan dengan pengalaman bisnis kelompok usaha tersebut. Dengan masuk ke sektor yang berhubungan dengan rantai pasok industri tembakau dan produk kertas, akuisisi dapat memberikan peluang untuk membangun integrasi bisnis secara lebih luas.

Transaksi di Amerika Serikat dan Austria juga memperlihatkan bahwa ekspansi tidak hanya diarahkan ke negara berkembang. Perusahaan yang menjadi target investasi berada di pasar dengan karakter industri dan regulasi yang berbeda, sehingga strategi tersebut membutuhkan perhitungan bisnis serta manajemen risiko yang cukup kompleks.

Di sisi lain, penggunaan fasilitas kredit asing sebagai salah satu sumber pendanaan menunjukkan bahwa akuisisi lintas negara dapat dilakukan dengan struktur pembiayaan yang beragam. Nilai transaksi yang besar tidak otomatis menggambarkan adanya arus dana tunai dari Indonesia dalam jumlah yang sama.

Persoalan tersebut penting dipahami karena istilah “investasi di luar negeri” sering kali disalahartikan sebagai “pemindahan seluruh modal dari Indonesia”. Padahal, dalam praktik korporasi, perusahaan dapat melakukan ekspansi melalui pembiayaan eksternal, struktur perusahaan internasional, maupun sumber dana lainnya.

Djarum juga menegaskan bahwa sekitar 90 persen investasi keluarga Hartono masih berada di Indonesia. Klaim tersebut menunjukkan bahwa meskipun ada ekspansi ke pasar luar negeri, pusat kepentingan bisnis keluarga Hartono tetap memiliki pijakan besar di dalam negeri.

Basis bisnis tersebut mencakup berbagai sektor strategis yang telah dibangun selama puluhan tahun. Djarum sendiri dikenal sebagai salah satu perusahaan besar di industri rokok, sementara keluarga Hartono juga memiliki kepentingan bisnis di sektor perbankan, properti, teknologi, dan berbagai bidang lainnya.

Karena itu, ekspansi ke luar negeri dapat dipandang sebagai upaya diversifikasi, bukan semata-mata pengurangan investasi di Indonesia. Dengan memiliki aset di berbagai negara, kelompok usaha dapat memperoleh sumber pendapatan dari pasar yang berbeda sekaligus menyebar risiko bisnis.

Meski demikian, ekspansi global tetap membawa tantangan. Investasi di luar negeri berarti perusahaan harus menghadapi perbedaan regulasi, kondisi ekonomi, mata uang, perpajakan, budaya bisnis, hingga dinamika geopolitik di negara tempat investasi dilakukan.

Keputusan untuk mengakuisisi perusahaan di Amerika Serikat dan Austria karena itu bukan langkah sederhana. Diperlukan pertimbangan mengenai prospek industri, kemampuan perusahaan target, struktur pembiayaan, hingga peluang integrasi dengan bisnis yang telah dimiliki.

Dalam konteks keluarga Hartono, langkah tersebut memperlihatkan bahwa kelompok usaha besar Indonesia semakin aktif melihat peluang di pasar internasional. Perusahaan tidak hanya menjadi investor di dalam negeri, tetapi juga mulai mengambil posisi sebagai pemilik aset di berbagai negara.

Namun, Djarum ingin memastikan ekspansi tersebut tidak dibaca sebagai bentuk pelepasan komitmen terhadap Indonesia. Pesan yang disampaikan perusahaan justru menekankan bahwa investasi luar negeri berjalan beriringan dengan keterlibatan ekonomi di dalam negeri.

Pernyataan mengenai siapa pun yang menjadi presiden atau penguasa juga menunjukkan bahwa Djarum berupaya memisahkan keputusan bisnis dari dinamika politik. Perusahaan menyatakan fokus utamanya tetap pada pengembangan ekonomi dan keberlangsungan bisnis.

Bagi publik, perbedaan antara laporan mengenai investasi luar negeri dan klarifikasi perusahaan menjadi hal penting untuk diperhatikan. Nilai investasi US$1,4 miliar memang besar, tetapi angka tersebut tidak dapat langsung dimaknai sebagai uang Indonesia yang dipindahkan seluruhnya ke luar negeri.

Sumber pendanaan menjadi faktor penting dalam memahami struktur transaksi. Ketika sebagian pembiayaan berasal dari kredit asing, maka gambaran mengenai arus modal menjadi lebih kompleks daripada sekadar menghitung nilai akuisisi.

Di sisi lain, klaim bahwa sekitar 90 persen investasi keluarga Hartono masih berada di Indonesia menunjukkan bahwa ekspansi internasional tersebut belum mengubah fakta bahwa keluarga Hartono masih memiliki kepentingan bisnis domestik yang sangat besar.

Perkembangan ini juga menggambarkan perubahan karakter kelompok bisnis besar Indonesia dalam menghadapi ekonomi global. Setelah membangun kekuatan di pasar domestik, ekspansi ke luar negeri dapat menjadi tahap berikutnya untuk memperluas cakupan bisnis dan meningkatkan daya saing.

Bagi keluarga Hartono, investasi miliaran dolar di luar negeri menjadi langkah strategis yang menunjukkan semakin luasnya pandangan bisnis mereka. Amerika Serikat dan Austria kini menjadi bagian dari jejak ekspansi tersebut, sementara Indonesia tetap disebut sebagai pusat utama investasi keluarga.

Pada akhirnya, sorotan terhadap investasi keluarga Hartono bukan semata soal berapa banyak uang yang ditempatkan di luar negeri. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana investasi tersebut dibiayai, apa tujuan bisnisnya, dan seberapa besar komitmen kelompok usaha tersebut terhadap perekonomian Indonesia.

Djarum telah memberikan jawabannya: ekspansi global bukan berarti meninggalkan Indonesia. Dengan sekitar 90 persen investasi keluarga Hartono disebut masih berada di dalam negeri, perusahaan menegaskan bahwa ekspansi internasional merupakan strategi untuk mengembangkan bisnis sekaligus tetap terlibat aktif dalam perekonomian negara.

Di tengah perubahan lanskap bisnis global, langkah keluarga Hartono akhirnya menunjukkan satu hal penting: perusahaan besar Indonesia kini tidak hanya berkompetisi di pasar domestik, tetapi juga mulai membangun pijakan yang semakin kuat di panggung internasional.

Topik

Memuat tag...