Gerakan Mahasiswa Serbia Goyahkan Kekuasaan Presiden Vučić
Berita International

Gerakan Mahasiswa Serbia Goyahkan Kekuasaan Presiden Vučić

D
Devi Sry Atmaja 28 Oktober 2026 · 3 penayangan

Hanya dalam waktu kurang dari dua tahun, gerakan mahasiswa Serbia yang bernama Studentska Lista berhasil menggoyahkan kekuasaan Presiden Aleksandar Vučić. Pemimpin yang telah mendominasi politik Serbia selama 14 tahun itu menghadapi tantangan serius dari gelombang protes. Dukungan terhadap partainya, Partai Progresif Serbia atau SNS, terus merosot. Akhirnya, partai tersebut kalah dalam pemungutan suara yang menjadi penentu masa depan Serbia. Gelombang protes ini berawal dari sebuah tragedi yang mengguncang publik. Kanopi beton di depan Stasiun Novi Sad runtuh pada 1 November 2024. Insiden tersebut menewaskan 16 orang dan meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat. Tragedi ini menjadi titik balik kesadaran publik terhadap persoalan tata kelola pemerintahan.

Banyak warga Serbia melihat tragedi runtuhnya kanopi stasiun sebagai bukti nyata persoalan yang mengakar. Isu tata kelola yang buruk dan korupsi menjadi sorotan utama. Kritik publik pun semakin tajam dan mengarah langsung kepada Presiden Vučić. Proyek renovasi stasiun yang selama ini dikaitkan erat dengan pemerintahannya menjadi sasaran ketidakpuasan. Helena Ivanov dari lembaga kajian Henry Jackson Society memberikan penilaian terhadap perkembangan tersebut. Ia mengatakan insiden di Stasiun Novi Sad menjadi "tetesan terakhir yang membuat kesabaran masyarakat habis". Peristiwa tragis itu memicu gelombang kemarahan yang sudah lama terpendam. Masyarakat akhirnya bersatu dalam menuntut perubahan.

Menurut Helena Ivanov, peristiwa tersebut memicu gerakan protes berskala nasional. Gerakan ini berhasil merebut perhatian dan dukungan masyarakat Serbia secara luas. Hal tersebut sebelumnya gagal dicapai oleh kelompok oposisi politik tradisional. Mahasiswa melalui Studentska Lista mampu menggerakkan massa lebih efektif. Studentska Lista sebagai gerakan mahasiswa muncul sebagai kekuatan baru dalam politik Serbia. Dalam waktu relatif singkat, kurang dari dua tahun, mereka berhasil menekan dominasi Vučić. Strategi mobilisasi yang mengandalkan semangat anak muda dan isu keadilan sosial mendapat respons positif. Dukungan publik terhadap gerakan ini terus meningkat.

Partai Progresif Serbia atau SNS yang selama 14 tahun menjadi tulang punggung kekuasaan Vučić mengalami penurunan dukungan signifikan. Merosotnya elektabilitas partai tersebut tercermin dalam hasil pemungutan suara. Kekalahan dalam kontestasi yang menentukan masa depan Serbia menjadi pukulan telak. Era dominasi politik Vučić mulai goyah. Tragedi di Stasiun Novi Sad pada 1 November 2024 menjadi katalisator perubahan. Runtuhnya kanopi beton yang menewaskan 16 orang membuka mata masyarakat terhadap dugaan kelalaian dan korupsi. Proyek infrastruktur yang seharusnya meningkatkan pelayanan publik justru berakhir dengan musibah. Kepercayaan publik terhadap pemerintah semakin terkikis.

Kritik terhadap Presiden Aleksandar Vučić semakin deras setelah tragedi tersebut. Banyak pihak mengaitkan proyek renovasi stasiun dengan lingkaran kekuasaannya. Tuntutan akuntabilitas dan transparansi menjadi isu sentral dalam setiap aksi protes. Mahasiswa dan warga sipil bersatu menyuarakan ketidakpuasan. Helena Ivanov menekankan bahwa gerakan protes yang dipicu tragedi Novi Sad berbeda dari upaya oposisi sebelumnya. Kali ini, gerakan berhasil merebut hati masyarakat luas. Bukan hanya kelompok politik, tetapi juga warga biasa yang merasa frustasi dengan kondisi tata kelola. Momentum perubahan akhirnya terbentuk.

Studentska Lista memanfaatkan momentum tragedi untuk membangun narasi perubahan. Mereka berhasil mengorganisasi aksi-aksi yang berkelanjutan dan mendapat liputan luas. Dukungan terhadap gerakan mahasiswa ini menjadi fenomena baru di Serbia. Kekuatan anak muda terbukti mampu menggoyang struktur kekuasaan yang mapan. Penurunan dukungan terhadap SNS menjadi indikator jelas pergeseran politik di Serbia. Setelah 14 tahun mendominasi, Vučić dan partainya menghadapi realitas baru. Kekalahan dalam pemungutan suara menunjukkan bahwa masyarakat menginginkan arah yang berbeda. Transisi politik menjadi kemungkinan yang semakin nyata.

Tragedi yang menewaskan 16 orang di Stasiun Novi Sad tidak hanya menjadi musibah, tetapi juga simbol perlawanan. Masyarakat melihatnya sebagai puncak dari berbagai persoalan yang selama ini diabaikan. Korupsi dan tata kelola yang buruk menjadi musuh bersama. Gerakan mahasiswa berhasil menyalurkan kemarahan tersebut menjadi aksi politik. Lembaga kajian Henry Jackson Society melalui Helena Ivanov memberikan perspektif independen terhadap dinamika di Serbia. Penilaian bahwa tragedi menjadi "tetesan terakhir" menggambarkan kondisi psikologi massa. Kesabaran publik yang sudah menipis akhirnya pecah setelah insiden mematikan tersebut. Protes nasional pun tidak terelakkan.

Dari Serbia, gerakan mahasiswa Studentska Lista dalam waktu kurang dari dua tahun berhasil menggoyahkan kekuasaan Presiden Aleksandar Vučić yang telah mendominasi politik selama 14 tahun, setelah dukungan Partai Progresif Serbia merosot dan kalah dalam pemungutan suara, dengan gelombang protes berawal dari tragedi runtuhnya kanopi Stasiun Novi Sad pada 1 November 2024 yang menewaskan 16 orang dan dinilai sebagai tetesan terakhir kesabaran masyarakat. Semoga transisi politik di Serbia berjalan damai dan membawa perbaikan tata kelola bagi rakyatnya.

Topik

Memuat tag...