BMKG: Empat Bandara Bersih dari Abu Vulkanik Anak Krakatau, Pembukaan Bisa Bertahap
Nasional

BMKG: Empat Bandara Bersih dari Abu Vulkanik Anak Krakatau, Pembukaan Bisa Bertahap

D
Devi Sry Atmaja 09 September 2026 · 4 penayangan

JAKARTA - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani mengungkapkan perkembangan terbaru hasil pemantauan abu vulkanik di empat bandara yang sebelumnya ditutup sementara akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Berdasarkan hasil paper test atau uji kertas abu vulkanik, empat bandara tersebut dinyatakan menunjukkan hasil negatif terhadap keberadaan debu vulkanik. Keempatnya yakni Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Bandara Halim Perdanakusuma, Bandara Husein Sastranegara, dan Bandara Budiarto. Faisal mengatakan hasil pemantauan tersebut menjadi salah satu pertimbangan penting dalam menentukan kemungkinan pembukaan kembali operasional bandara. Untuk Bandara Soekarno-Hatta, misalnya, hasil paper test bahkan telah menunjukkan kondisi bersih secara konsisten dalam empat kali pengujian berturut-turut.

“Ada 4 bandara yang posisi pengamatan paper test itu menunjukkan negatif. Untuk Soekarno-Hatta, ini 4 kali berturut-turut paper test-nya selalu menunjukkan hasil negatif, artinya tidak ada debu vulkanik yang terpantau dari paper test,” kata Faisal dalam rapat terbatas penanganan bencana secara daring di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (7/9/2026).

Paper test menjadi salah satu metode pemantauan yang digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya endapan abu vulkanik di sekitar fasilitas bandara. Hasil pengujian tersebut kemudian menjadi bagian dari informasi yang digunakan untuk menilai kondisi lingkungan bandara setelah terjadinya erupsi. BMKG selanjutnya menyampaikan hasil pemantauan tersebut kepada Kementerian Perhubungan. Data dan informasi mengenai kondisi abu vulkanik diperlukan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan langkah operasional penerbangan, termasuk kemungkinan pembukaan kembali bandara yang sebelumnya ditutup. Faisal menyebut pembukaan kembali keempat bandara tersebut memungkinkan dilakukan secara bertahap. Namun, keputusan akhir mengenai pembukaan operasional tetap berada pada otoritas penerbangan dan pengelola bandara dengan mempertimbangkan seluruh aspek keselamatan penerbangan.

Selain melakukan pemantauan di lapangan, BMKG juga terus berkoordinasi dengan pihak terkait di tingkat internasional. Salah satunya dengan Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin yang memiliki peran penting dalam pemantauan dan pemberian informasi terkait abu vulkanik yang dapat memengaruhi penerbangan di kawasan. Menurut Faisal, koordinasi dengan VAAC Darwin terus dilakukan agar informasi mengenai kondisi abu vulkanik dapat diperbarui. Dengan adanya hasil pemantauan yang menunjukkan sejumlah bandara telah bersih dari abu vulkanik secara berturut-turut, informasi tersebut diharapkan dapat menjadi dasar untuk pemulihan peringatan meteorologi penerbangan yang sebelumnya diberlakukan.

“Hal ini terus kami komunikasikan dengan VAAC di Darwin agar SIGMET-nya dipulihkan dan kemudian Bapak Menteri Perhubungan selanjutnya akan menjelaskan otoritas bandara yang akan menentukan pembukaan secara terbatas dari bandara-bandara yang telah dipantau empat kali berturut-turut bersih dari debu vulkanik,” lanjut Faisal.

SIGMET atau Significant Meteorological Information merupakan informasi meteorologi penting dalam penerbangan yang berkaitan dengan kondisi cuaca berbahaya dan berpotensi memengaruhi keselamatan operasional pesawat. Informasi tersebut digunakan oleh penerbangan dan pihak terkait untuk mengetahui adanya kondisi signifikan di sepanjang rute penerbangan atau wilayah tertentu. Dalam konteks erupsi gunung api, informasi mengenai abu vulkanik menjadi sangat penting karena partikel abu dapat membahayakan operasional penerbangan. Karena itu, kondisi atmosfer dan wilayah sekitar bandara perlu dipantau secara berkala sebelum aktivitas penerbangan kembali dilakukan. Hasil paper test yang menunjukkan empat bandara telah bersih dari abu vulkanik menjadi perkembangan positif dalam proses pemulihan operasional penerbangan. Meski demikian, pembukaan kembali tidak dilakukan secara otomatis karena tetap membutuhkan evaluasi menyeluruh dari berbagai pihak yang memiliki kewenangan dalam keselamatan dan operasional penerbangan.

Pemerintah melalui BMKG, Kementerian Perhubungan, otoritas bandara, serta pihak terkait lainnya terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan kondisi Gunung Anak Krakatau dan sebaran abu vulkanik. Evaluasi akan dilakukan secara berkala untuk memastikan keputusan yang diambil tetap mengutamakan keselamatan penumpang, awak pesawat, dan seluruh aktivitas penerbangan. Dengan hasil pemantauan yang menunjukkan kondisi bersih selama beberapa kali pengujian, terdapat peluang bagi sejumlah penerbangan untuk kembali beroperasi secara terbatas dan bertahap. Namun, masyarakat pengguna jasa penerbangan tetap diimbau memantau informasi resmi dari maskapai, bandara, dan pemerintah karena kondisi vulkanik maupun cuaca dapat berubah sewaktu-waktu.

Topik

Memuat tag...