Terungkap! Dentuman Misterius di Bandung Ternyata Berasal dari Erupsi Gunung Anak Krakatau
Nasional

Terungkap! Dentuman Misterius di Bandung Ternyata Berasal dari Erupsi Gunung Anak Krakatau

F
Fazlur Rahman 07 September 2026 · 2 penayangan

Dentuman keras yang terdengar di sejumlah wilayah Bandung, Jawa Barat, pada Jumat (4/9/2026) malam hingga Sabtu (5/9/2026) dini hari akhirnya mendapat penjelasan. Suara yang sempat membuat warga bertanya-tanya dan ramai diperbincangkan di media sosial tersebut ternyata berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.

Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Lana Saria, mengonfirmasi bahwa dentuman yang terdengar di Bandung berasal dari gelombang akustik yang dihasilkan oleh erupsi Gunung Anak Krakatau. Kesimpulan tersebut diperoleh setelah Badan Geologi mencermati sinyal yang terekam di sejumlah stasiun pemantauan di wilayah Jawa Barat.

“Sinyal pada stasiun pemantau di Jawa Barat mendukung kuat bahwa fenomena tersebut berasal dari gelombang akustik erupsi Gunung Api Anak Krakatau,” jelas Lana dalam konferensi pers pada Minggu (6/9/2026).

Penjelasan tersebut sekaligus menjawab keresahan warga Bandung yang sebelumnya mendengar suara dentuman cukup keras pada malam hari. Fenomena itu sempat menimbulkan berbagai dugaan di tengah masyarakat, mulai dari kemungkinan gempa bumi hingga aktivitas lain yang terjadi di sekitar wilayah Bandung.

Namun, berdasarkan hasil pemantauan Badan Geologi, tidak berarti terjadi erupsi atau aktivitas vulkanik baru di wilayah Bandung. Suara yang terdengar merupakan dampak dari gelombang akustik yang berasal dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau dan merambat hingga wilayah yang jaraknya cukup jauh.

Lana menjelaskan, gelombang akustik berfrekuensi rendah yang dihasilkan oleh aktivitas erupsi dapat merambat dalam jarak yang jauh apabila kondisi atmosfer mendukung. Gelombang tersebut dapat bergerak melalui lapisan atmosfer dan ketika mencapai suatu wilayah dapat dirasakan oleh masyarakat dalam bentuk suara dentuman.

Dalam kondisi tertentu, gelombang akustik bahkan dapat menempuh jarak ratusan kilometer dari sumbernya. Karakteristik atmosfer, termasuk kondisi suhu dan angin pada lapisan udara tertentu, dapat memengaruhi bagaimana gelombang tersebut merambat dan sejauh mana suara dapat terdengar.

Fenomena semacam ini bukan kali pertama terjadi di Indonesia. Badan Geologi mencatat sejumlah erupsi gunung api sebelumnya juga menghasilkan suara yang dapat terdengar hingga wilayah yang cukup jauh dari pusat erupsi.

Lana mencontohkan erupsi Gunung Kelud yang suaranya pernah terdengar hingga wilayah Jawa Tengah. Fenomena serupa juga terjadi saat Gunung Lewotobi Laki-laki mengalami erupsi, ketika suara letusan dilaporkan dapat terdengar hingga Pulau Maumere dan Pulau Alor.

Hal tersebut menunjukkan bahwa suara dari aktivitas gunung api tidak selalu hanya terdengar di wilayah yang berada tepat di sekitar gunung. Dengan kondisi atmosfer tertentu, gelombang akustik berfrekuensi rendah dapat membawa energi suara hingga wilayah yang jauh dari sumber erupsi.

Karena itu, dentuman yang terdengar di Bandung tidak dapat langsung diartikan sebagai tanda terjadinya gempa bumi atau munculnya aktivitas vulkanik baru di sekitar Bandung. Hasil pemantauan justru menunjukkan adanya keterkaitan kuat dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau yang sedang mengalami erupsi di Selat Sunda.

Gunung Anak Krakatau sendiri mulai mengalami erupsi pada Jumat (4/9/2026) malam. Aktivitas tersebut disertai semburan material pijar yang terlihat menyerupai air mancur dan terus menjadi perhatian otoritas karena intensitas erupsinya dapat berubah sewaktu-waktu.

Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau juga telah menimbulkan sejumlah dampak di wilayah lain. Selain suara dentuman yang terdengar hingga Jawa Barat, sebaran abu vulkanik turut mengganggu aktivitas penerbangan dan berdampak terhadap sejumlah daerah di sekitar Selat Sunda.

Meski suara dentuman dapat terdengar cukup keras dan mengejutkan, masyarakat Bandung tidak perlu langsung mengaitkannya dengan ancaman bencana baru di wilayah setempat. Penjelasan Badan Geologi menunjukkan bahwa fenomena tersebut merupakan efek rambatan gelombang akustik dari aktivitas erupsi gunung api yang berada jauh dari Bandung.

Masyarakat tetap diimbau mengikuti informasi resmi dari Badan Geologi, BMKG, dan instansi terkait apabila kembali mendengar suara dentuman atau merasakan getaran yang tidak biasa. Informasi berdasarkan hasil pemantauan instrumen menjadi acuan yang lebih dapat diandalkan dibandingkan dugaan yang beredar di media sosial.

Fenomena dentuman di Bandung akhirnya memberikan gambaran mengenai betapa jauhnya dampak suara sebuah erupsi gunung api dapat merambat. Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda ternyata mampu menghasilkan gelombang akustik yang, dalam kondisi atmosfer tertentu, terdengar hingga wilayah Jawa Barat.

Dengan demikian, misteri dentuman yang sempat membuat warga Bandung bertanya-tanya kini mendapatkan penjelasan ilmiah. Bukan gempa atau erupsi baru di Bandung, suara tersebut merupakan gelombang akustik dari erupsi Gunung Anak Krakatau yang merambat jauh melalui atmosfer.

Topik

Memuat tag...