Tegang di Selat Hormuz: Garda Revolusi Iran Tutup Jalur Strategis setelah Tembak Peringatan Kapal
Berita International

Tegang di Selat Hormuz: Garda Revolusi Iran Tutup Jalur Strategis setelah Tembak Peringatan Kapal

D
Devi Sry Atmaja 13 Juli 2026 · 2 penayangan

Ketegangan di kawasan Teluk Persia kembali memuncak. Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) secara resmi menutup Selat Hormuz pada Minggu, 12 Juli 2026. Penutupan ini dilakukan setelah pasukan Iran melepaskan tembakan peringatan ke sebuah kapal yang disebut melanggar rute pelayaran yang telah ditentukan.

Dilansir kantor berita AFP, Garda Revolusi menyatakan kapal tersebut dihentikan setelah mengabaikan instruksi berulang kali untuk menggunakan koridor pelayaran yang telah disetujui. Kapal itu disebut menggunakan rute tanpa izin, sehingga memicu aksi tegas dari pasukan Iran. “Kami telah menembak peringatan dan menghentikan kapal tersebut,” kata juru bicara Garda Revolusi, seperti dikutip AFP.

Selain menutup selat vital tersebut, Garda Revolusi Iran juga mengeluarkan peringatan keras. Mereka menyatakan akan menargetkan "pangkalan musuh yang baru di wilayah tersebut" jika ada tindakan militer baru yang diarahkan terhadap Iran.

Pernyataan ini semakin memperburuk situasi keamanan di salah satu jalur perdagangan maritim paling strategis di dunia. Selat Hormuz merupakan jalur pengangkutan minyak mentah terbesar di dunia, di mana sekitar 20% pasokan minyak global melewati wilayah sempit ini setiap harinya. Penutupan Selat Hormuz berpotensi memicu gejolak harga minyak dunia dan mengganggu rantai pasok energi internasional. Banyak negara importir minyak, termasuk di Asia dan Eropa, sangat bergantung pada jalur ini. Sejumlah negara telah menyatakan keprihatinan mendalam atas eskalasi ini.

Penutupan ini menjadi babak baru ketegangan Iran dengan pihak-pihak yang dianggap sebagai musuhnya, menyusul serangkaian insiden keamanan di kawasan Teluk beberapa waktu terakhir. Para analis menyebut langkah ini sebagai upaya Iran untuk menegaskan kedaulatan dan kekuatan militernya di perairan strategis.

Masyarakat internasional kini menanti langkah diplomatik dan respons dari negara-negara besar serta organisasi seperti PBB untuk meredakan ketegangan sebelum situasi semakin meluas.

Topik

Memuat tag...