Putus Kuliah karena Biaya, Nunggu Dedi Mulyadi Berjam-jam di Muswil KAHMI Sumbar
Nasional

Putus Kuliah karena Biaya, Nunggu Dedi Mulyadi Berjam-jam di Muswil KAHMI Sumbar

D
Devi Sry Atmaja 19 Juli 2026 · 4 penayangan

Padang

Keduanya hanya berharap satu kesempatan: bertemu langsung dengan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang diyakini bisa mengubah nasib Rahmi.

Rahmi sempat mengukir asa menjadi sarjana. Ia diterima di Program Studi S-1 Teknik Komputer Politeknik Negeri Padang Kampus Lubuk Malako, Solok Selatan. Namun, mimpi itu hanya bertahan satu semester.

“Putus kuliah karena enggak ada biaya kuliah. Kemarin daftar Rp 3 juta. Uang semester Rp 2 juta. Uang pendaftaran saja baru dibayar,” ujar Rahmi dengan suara pelan, mata masih tertuju ke arah pintu auditorium.

“Satu semester kuliah, putus di tengah jalan. Pas mau masuk ujian,” lanjutnya.

Rahmi dan ibunya mengikuti seluruh rangkaian acara Muswil KAHMI sejak pagi. Mereka duduk di pinggir, menunggu momen ketika Dedi Mulyadi keluar. Harapan mereka sederhana: meminta bantuan agar Rahmi bisa melanjutkan pendidikan.

Cerita Rahmi mencerminkan perjuangan banyak anak muda di daerah yang berbakat namun terhambat oleh keterbatasan ekonomi. Di tengah gemerlap acara Muswil yang dihadiri ratusan alumni dan tokoh, Rahmi dan ibunya menjadi gambaran nyata bahwa pendidikan tinggi masih menjadi mimpi yang mahal bagi sebagian keluarga.

Desmawarni, sang ibu, tak banyak bicara. Wajahnya menunjukkan campuran harap dan lelah. Sebagai orang tua tunggal, ia berusaha semampunya membiayai anaknya, namun biaya kuliah yang harus dibayar di awal semester menjadi beban berat.

Topik

Memuat tag...