Dokter di Cianjur Terapkan Sistem "Ijab Kabul" untuk Biaya Berobat, Pasien Bisa Bayar dengan Hasil Panen hingga Botol Bekas
Nasional

Dokter di Cianjur Terapkan Sistem "Ijab Kabul" untuk Biaya Berobat, Pasien Bisa Bayar dengan Hasil Panen hingga Botol Bekas

D
Devi Sry Atmaja 21 Juli 2026 · 4 penayangan

CIANJUR – Di tengah tingginya biaya layanan kesehatan yang kerap menjadi kendala bagi masyarakat kurang mampu, seorang dokter di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, menghadirkan konsep pelayanan yang berbeda. Melalui sistem "ijab kabul", masyarakat tetap dapat memperoleh layanan kesehatan tanpa harus khawatir tidak memiliki uang untuk membayar biaya pengobatan. Dokter Yusuf Nugraha, pendiri Klinik Harapan Sehat (HS), menerapkan sistem tersebut sebagai bentuk kepedulian agar tidak ada warga yang menunda atau bahkan mengurungkan niat berobat hanya karena keterbatasan ekonomi.

Dalam praktiknya, setiap pasien yang datang dipersilakan menyampaikan kesanggupan membayar sesuai kemampuan sebelum menjalani pemeriksaan. Nilainya pun tidak ditentukan secara kaku. Ada yang membayar Rp5.000, Rp20.000, ada pula yang membawa hasil panen, makanan, barang layak pakai, hingga botol plastik bekas sebagai bentuk kontribusi. Bahkan, bagi pasien yang benar-benar tidak memiliki kemampuan finansial, layanan kesehatan tetap diberikan secara cuma-cuma.

Menurut Yusuf, kesehatan merupakan hak setiap orang. Karena itu, kondisi ekonomi tidak seharusnya menjadi penghalang seseorang untuk mendapatkan pelayanan medis. Konsep "ijab kabul" yang diterapkannya berangkat dari keinginan sederhana, yakni memastikan setiap warga tetap bisa memperoleh pengobatan tanpa rasa takut memikirkan biaya. Di sisi lain, pasien yang memiliki kemampuan ekonomi tetap membayar biaya layanan secara normal. Dana tersebut kemudian dikelola melalui sistem subsidi silang untuk membantu biaya operasional klinik sekaligus menutupi kebutuhan pelayanan bagi pasien yang kurang mampu. Dengan cara tersebut, keberlangsungan pelayanan kesehatan tetap terjaga tanpa menghilangkan nilai gotong royong dan solidaritas sosial.

Belum lama ini, Yusuf membagikan kisah menyentuh melalui media sosial ketika seorang pasien datang membawa masakan hasil olahan sendiri sebagai bentuk pembayaran biaya berobat. Bagi Yusuf, pemberian tersebut bukan sekadar pengganti biaya layanan, melainkan simbol rasa syukur, penghargaan, dan kepedulian antarsesama. Ia menilai setiap bentuk pembayaran memiliki nilai yang sama selama diberikan dengan ikhlas sesuai kemampuan pasien. Menurutnya, konsep tersebut menciptakan siklus kebaikan yang terus berputar. Pasien yang mampu membantu mereka yang sedang kesulitan, sementara pasien yang pernah ditolong suatu saat dapat berbagi kepada orang lain ketika memiliki rezeki lebih.

Perjalanan Klinik Harapan Sehat dimulai pada tahun 2008 dari sebuah bangunan sederhana berukuran sekitar 3 x 4 meter. Dengan semangat pelayanan dan komitmen membantu masyarakat, klinik tersebut terus berkembang hingga kini memiliki gedung dua lantai yang melayani sekitar 250 pasien setiap hari. Pertumbuhan tersebut menjadi bukti bahwa pelayanan kesehatan berbasis empati dan kepercayaan masyarakat mampu berkembang secara berkelanjutan.

Yusuf mengaku filosofi yang dipegangnya selama menjalankan klinik tidak hanya didasarkan pada perhitungan bisnis, tetapi juga keyakinan bahwa berbagi tidak akan mengurangi rezeki. Ia menyampaikan sebuah kalimat yang kini menjadi prinsip dalam menjalankan Klinik Harapan Sehat. "Dalam matematika manusia, 10 dikurangi 11 hasilnya minus 1. Tapi dalam matematika Allah, justru bisa menjadi sejuta," ujar Yusuf.

Prinsip itulah yang terus menjadi landasan sistem "ijab kabul" hingga saat ini. Baginya, keberhasilan sebuah layanan kesehatan bukan semata diukur dari keuntungan finansial, melainkan dari seberapa banyak masyarakat yang dapat terbantu dan memperoleh harapan untuk hidup lebih sehat.

Topik

Memuat tag...