Daryono Tegaskan Erupsi Gunung Api Bukan Hasil Rekayasa Teknologi: Mustahil Kendalikan Jutaan Meter Kubik Magma
Nasional

Daryono Tegaskan Erupsi Gunung Api Bukan Hasil Rekayasa Teknologi: Mustahil Kendalikan Jutaan Meter Kubik Magma

F
Fazlur Rahman 09 September 2026 · 3 penayangan

JAKARTA — Pegiat mitigasi bencana Daryono menegaskan bahwa erupsi gunung api di Indonesia merupakan proses alamiah yang berkaitan dengan dinamika internal Bumi. Ia membantah anggapan bahwa aktivitas vulkanik yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia merupakan hasil rekayasa teknologi, ledakan buatan manusia, maupun bagian dari konspirasi.

Daryono mengatakan energi yang terlibat dalam proses erupsi gunung api sangat besar dan bersumber dari sistem geologi Bumi yang bekerja di kedalaman. Menurut dia, kemampuan teknologi manusia saat ini tidak memungkinkan untuk membangkitkan, mengendalikan, apalagi mengarahkan energi dan material magma yang berada jauh di bawah permukaan.

“Tudingan bahwa fenomena erupsi beberapa gunung api di Indonesia disebabkan oleh rekayasa teknologi atau senjata konspirasi sama sekali tidak masuk akal secara ilmu kebumian,” kata Daryono dalam keterangan tertulis, Senin (7/9).

Ia menjelaskan, aktivitas gunung api tidak dapat dipisahkan dari posisi Indonesia yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire. Wilayah tersebut merupakan salah satu zona tektonik paling aktif di dunia karena menjadi tempat pertemuan dan interaksi sejumlah lempeng bumi.

Kondisi geologi tersebut membuat Indonesia memiliki banyak gunung api aktif dan kerap mengalami gempa bumi serta aktivitas vulkanik. Proses yang berlangsung di dalam Bumi secara perlahan dapat menyebabkan penumpukan tekanan di sistem magma hingga akhirnya memicu pelepasan energi dalam bentuk erupsi.

Menurut Daryono, aktivitas tersebut merupakan konsekuensi dari dinamika mantel Bumi pada kedalaman puluhan kilometer. Magma yang terbentuk dan bergerak melalui sistem gunung api membawa energi panas serta tekanan yang sangat besar sebelum akhirnya dapat mencapai permukaan.

Ia menyebut jutaan meter kubik magma dengan temperatur yang dapat mencapai sekitar 1.200 derajat Celsius sebagai bagian dari sistem energi yang terlibat dalam proses vulkanisme. Besarnya volume material dan panas tersebut, menurut dia, menunjukkan betapa tidak masuk akalnya anggapan bahwa manusia dapat mengatur pergerakan magma menggunakan teknologi biasa.

“Manusia tidak memiliki sumber energi yang cukup besar untuk merekayasa pergerakan jutaan meter kubik magma bersuhu hingga 1.200 derajat Celsius,” ujarnya.

Penjelasan tersebut sekaligus menyoroti perbedaan mendasar antara fenomena geologi dan teknologi buatan manusia. Erupsi terjadi sebagai bagian dari proses alam yang melibatkan tekanan, panas, fluida, batuan, serta pergerakan material dari dalam Bumi. Proses tersebut berlangsung dalam sistem yang sangat kompleks dan berada pada skala ruang serta energi yang jauh melampaui kemampuan manusia untuk dikendalikan.

Daryono menilai munculnya tudingan tentang teknologi atau senjata tertentu sebagai penyebab erupsi berpotensi menyesatkan masyarakat. Informasi semacam itu dapat berkembang dengan cepat terutama ketika beberapa gunung api mengalami peningkatan aktivitas dalam waktu berdekatan.

Padahal, kemunculan erupsi di lebih dari satu gunung api tidak dengan sendirinya membuktikan adanya hubungan akibat campur tangan manusia. Setiap gunung api memiliki sistem magma dan kondisi geologi masing-masing yang dipengaruhi oleh sejarah aktivitas, tekanan internal, suplai magma, serta kondisi tektonik di sekitarnya.

Karena itu, pemahaman terhadap aktivitas gunung api seharusnya didasarkan pada pengamatan ilmiah dan data pemantauan. Perubahan aktivitas gunung api dapat diketahui melalui berbagai parameter, antara lain kegempaan vulkanik, deformasi tubuh gunung, emisi gas, perubahan visual, serta kondisi material yang dikeluarkan saat erupsi.

Pemantauan tersebut menjadi bagian penting dalam mitigasi bencana karena tujuan utamanya bukan hanya memahami penyebab erupsi, tetapi juga memberikan peringatan sedini mungkin kepada masyarakat yang berada di kawasan rawan.

Indonesia sendiri memiliki pengalaman panjang menghadapi bencana erupsi. Berbagai kejadian menunjukkan bahwa aktivitas gunung api dapat berubah dengan cepat sehingga masyarakat perlu memahami tingkat ancaman dan mengikuti rekomendasi resmi dari lembaga yang berwenang.

Di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap aktivitas sejumlah gunung api di Indonesia, Daryono mengingatkan pentingnya membedakan antara fakta ilmiah dan spekulasi. Fenomena alam yang kompleks memang sering memunculkan pertanyaan, tetapi jawaban terhadapnya harus dikembalikan pada data, pengamatan lapangan, serta pengetahuan kebumian yang dapat dipertanggungjawabkan.

Penjelasan tersebut menjadi penting karena informasi yang tidak berdasar dapat membuat masyarakat salah memahami risiko bencana. Energi besar yang tersimpan dalam sistem gunung api bukan sesuatu yang dapat direkayasa secara sederhana, sementara proses geologi yang berlangsung di bawah permukaan Bumi memang memiliki skala waktu dan energi yang sangat berbeda dari aktivitas teknologi manusia.

Dengan karakter Indonesia yang berada di kawasan Ring of Fire, aktivitas vulkanik akan tetap menjadi bagian dari dinamika alam yang harus dihadapi. Tantangan bagi masyarakat bukan mencari teori tanpa dasar mengenai penyebab erupsi, melainkan meningkatkan kesiapsiagaan, memahami wilayah rawan, dan mengikuti informasi resmi ketika gunung api menunjukkan perubahan aktivitas.

Daryono menegaskan bahwa pendekatan ilmiah menjadi kunci untuk memahami setiap fenomena vulkanik. Alih-alih terjebak dalam spekulasi tentang rekayasa teknologi, masyarakat perlu memusatkan perhatian pada upaya mitigasi agar dampak erupsi dapat ditekan dan keselamatan warga tetap menjadi prioritas.

Topik

Memuat tag...